F A Q

1. Apakah Infertil atau kurang subur?
Infertil atau kurang subur adalah pasangan suami istri yang belum hamil setelah melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa memakai kontrasepsi selama 1 (satu) tahun. Suatu kehamilan dimungkinkan jika pasangan suami istri melakukan hubungan seksual yang normal, sperma suami normal, pada istri sel telur dan ovulasi normal, uterus dan endometrium normal, dan tuba fallopii nomal. Seorang wanita dikatakan infertil jika kehilangan kemampuan untuk dihamili dan seorang pria dikatakan infertil jika kehilangan kemampuan untuk menghamili.

2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesuburan?
Terdapat banyak sekali penyebab terjadinya ketidaksuburan pada wanita maupun pria. Gangguan ovulasi dan hormonal, kelainan endometrium dan uterus, masalah di tuba fallopii, gangguan peritoneum seperti endometriosis, gangguan immunologic, dan gangguan yang diakibatkan oleh infeksi seperti hidrosalphing merupakan penyebab terjadinya infertilitas pada wanita.
Pada pria infertilitas bisa disebabkan oleh masalah produksi sperma sehingga mengakibatkan sedikitnya jumlah sperma, dan bentuk atau motilitas yang abnormal. Penyebabnya antara lain karena kelainan bawaan dan kelainan yang didapat setelah dewasa ataupun karena masalah fisik seperti trauma, sinar radioaktif, panas, dll dan infeksi.
Faktor gangguan hubungan seksual seperti penetrasi yang tidak sempurna, ejakulasi abnormal, gangguan psikoseksual seperti impotensi, vaginismus, dan kelainan anatomi juga dapat menyebabkan pasangan suami istri menjadi infertil.
Selain itu adalah pengaruh lifestyle ( gaya hidup) tren saat ini dimana banyak pasangan yang menunda usia perkawinan. Pada wanita kesuburan akan menurun sesuai bertambahnya umur. Mulai usia 35 tahun keatas, kesuburan akan menurun dan akan terus menurun drastis pada usia diatas 37 tahun hingga akhirnya masuk ke masa menopause diatas 40-45 tahunan. Hal ini terjadi karena cadangan sel telur akan terus berkurang setiap wanita mengalami menstruasi dan lama kelamaan akan habis sehingga terjadilah masa menopouse dimana ovarium atau indung telur berhenti mengeluarkan sel telur.
Hal ini tidak berlaku pada pria. Usia tidak dapat membatasi tingkat kesuburan pada seorang pria, karena berbeda dengan wanita yang hanya memiliki “gudang telur” dimana suatu saat akan habis, maka pria memiliki “pabrik sperma”. Sperma akan terus diproduksi tiap hari di testis selama anatominya normal.
Selain itu kebiasaan merokok, konsumsi caffeine dan alcohol juga jadi salah satu pemicu baik pada wanita maupun pria menjadi infertil.

3. Berapa lama pasangan harus menunggu sebelum berobat?
Jika pasangan suami istri masih belum hamil setelah melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa memakai kontrasepsi selama 1 (satu) tahun dan istri masih dalam usia produktif yaitu dibawah 35 tahun, maka sebaiknya segera melakukan pemeriksaan. Jika usia pasangan suami istri (terutama istri) sudah diatas 35 tahun dan dalam 3 (tiga) bulan pertama setelah melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa memakai kontrasepsi, masih belum hamil juga, maka segeralah untuk melakukan pemeriksaan ke ahli fertilitas.

4. Apa sajakah pemeriksaan dasar yang harus dilakukan untuk mengetahui kesuburan?
Untuk pria sangatlah sederhana, yaitu dilakukan pemeriksaan analisa sperma. Sperma dikeluarkan secara masturbasi dan kemudian di analisa di laboratorium untuk mengetahui jumlahnya, bentuknya dan motilitasnya. Dari situ dapat disimpulkan sejauh mana kemampuan untuk menghamili.
Untuk wanita lebih komprehensif. Pada hari ke 2 sampai ke 5 siklus menstruasi, seorang wanita harus melalui pemeriksaan hormonal dan USG untuk mengetahui cadangan sel telur, terutama pada wanita usia lebih dari 35 tahun atau pernah dilakukan tindakan operasi, endometriosis dan atau perlekatan pelvix walaupun usia belum mencapai 35 tahun. Pada hari ke 9 sampai ke 11, seorang wanita harus melakukan tindakan HSG ( Histerosalphingografi) yaitu foto rontgen untuk mengetahui bentuk dan anatomi organ reproduksi wanita.
Jika hasil dari pemeriksaan dasar diatas ditemui salah satu yang tidak normal, maka pasangan tersebut harus melakukan pemeriksaan lanjutan. Tetapi terdapat juga pengecualian. Kadang-kadang kita temui, seluruh pemeriksaan diatas normal, dan pasangan suami istri tidak hamil juga. Jika telah dilakukan senggama teratur atau inseminasi masih tidak hamil juga maka dianjurkan untuk pemeriksaan yang lebih advanced lagi seperti operasi laparoskopi untuk kategori yang biasa disebut unexplained atau yang tidak diketahui penyebab ketidaksuburan seorang wanita.