Proses Bayi Tabung

Infertil atau kurang subur adalah pasangan suami istri yang belum hamil setelah melakuakan hubungan suami-istri secara teratur tanpa memakai kontrasepsi selama 1 (satu) tahun. Suatu kehamilan dimungkinkan jika pasangan suami istri melakukan hubungan seksual yang normal, sperma suami normal, pada istri sel telur dan ovulasi normal, uterus dan endometrium atau dinding rahim normal, dan tuban fallopi normal. Seorang wanita dikatakan infertil jika kehilangan kemampuan untuk dihamil dan seorang pria dikatakan infertil jika kehilangan kemampuan untuk menghamili.

Kurang lebih 10%-11% dari pasangan usia subur mengalami masalah infertilitas ini, dimana penyebanya bisa dari pihak laki-laki, wanita atau dari kedua-duanya, ataupun dari sebab yang tidak diketahui (unexplained). Ketidaksuburan ini merupakan keadaan yang sangat merisaukan kedua pasangan bahkan keluarganya. Juga memerlukan penanganan yang terpadu, waktu khusus dan biaya yang besar.

Masalah infertil merupakan suatu momok pada saat ini dan masih merupakan sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan. Infertil seperti halnya suatu gunung es, dimana banyak pasangan yang sebenarnya infertil tetapi tidak tahu atau belum pernah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah pasangan ini subur atau tidak dan mengapa mereka masih belum memiliki keturunan.

Jika pasangan suami istri masih belum hamil setelah melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa memakai kontrasepsi selama 1 (satu) tahun dan istri masih dalam usia produktif yaitu dibawah 35 tahun dan dalam 3 (tiga) bulan pertama setelah melakukan hubungan suami-istri secara teratur tanpa memakai kontrasepsi, masih belum hamil juga, maka segeralah untuk melakukan pemeriksaan ke ahli fertilitas.

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kesuburan baik pada wanita maupun pria. Gangguan ovulasi dan hormon, kelainan endometrium uterus, masalah di tuba fallopi, gangguan peritoneium seperti endometriosis, gangguan immunologic, dan gangguan yang diakibatkan oleh infeksi seperti hidrosalphing merupakan penyebab terjadinya infertilitas pada wanita.

Pada pria infertilitas biasanya disebabkan oleh masalah produksi sperma sehingga mengakibatkan sedikitnya jumlah sperma, dan bentuk atau motilits yang abnormal. Penyebabnya antara lain karena kelainan bawaan dan didapat setelah dewasa ataupun karena masalah fisik seperti trauma, sinar radioaktif, panas, infeksi, dll. Faktor gangguan hubungan seksual seperti penetrasi yang tidak sempurna, ejakulasi abnormal, gangguan psikoseksual seperti impotensi, vaginismus, dan kelainan anatomi juga dapat menyebabkan pasangan suami istri menjadi infertil.

Selain itu adalah pengaruh lifestyle (gaya hidup) tren saat ini dimana banyak pasangan yang menunda usia perkawinan. Pada wanita kesuburan akan menurun sesuai bertambahnya umur. Mulai usia 35 tahun keatas, kesuburan akan menurun dan akan menurun drastis pada usia diatas 37 tahun hingga akhirnya masuk kemasa menopouse diatas 40-45 tahunan. Hal ini terjadi karena cadangan sel telur akan terus berkurang setiap wanita mengalami menstruasi dan lama kelamaan akan habis sehingga terjadilah masa menopouse diman ovarium atau indung telur berhenti mengeluarkan sel telur. Banyak wanita yang tidak menyadari akan hal ini dan menunda pemeriksaan hingga akhirnya terlambat dan tidak bisa terobati lagi.

Hal ini tidak berlaku pada pria. Usia tidak dapat membatasi tingkat kesuburan pada seseorang pria, karena berbeda dengan wanita yang halnya memiliki “gudang telur” dimana suatu saat akan habis, maka pria memiliki “pabrik sperma”. Sperma akan terus diproduksi tiap hari di testis selama anatominya normal. Selain itu kebiasan meroko, konsumsi caffeine dan alcohol juga jadi salah satu pemicu baik pada wanita maupu pria menjadi infertil.

Untuk mengatasi masalah ketidaksuburan ini, kami di Klinik Tratai Rumah Sakit Gading Pluit berdedikasi dan menyediakan fasilitas untuk pemeriksaan masalah kesuburan untuk wanita dan pria yang menyeluruh dari paling sederhana sampai dengan penggunaan teknologi terkini yaitu teknologi bayi tabung. Program bayi tabung yang kami tawarkan dilakukan dengan metode yaitu:

In Vitro Fertilisasi (IVF) merupakan suatu teknik reproduksi berbantu atau tehnik rekayasa reproduksi dengan mempertemukan sel telur (oosit) matang dari istri dengan spermatozoa dari suami di luar tubuh manusia agar terjadi fertilisasi.

Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI) merupakan suatu teknik reproduksi berbantu atau teknik rekayasa reproduksi dengan cara menyuntikkan satu spermatozoa langsung ke dalam sitoplasma oosit agar dapat terjadi fertilisasi.

Jika dari hasil pemeriksaan pada akhirnya tim dokter ahli kami menganjurkan pasangan suami istri untuk melakukan program bayi tabung, maka tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah menghubungi Tim Konselling Klinik TERATAI RS Gading Pluit untuk mendapatkan penjelasan lengkap mengenai program apa yang akan diikuti yang meliputi :
• Jangka waktu dan jadwal program
• Prosedur program.
• Perkiraan biaya yang akan dikeluarkan
• Formulir Informed Consent

Jangka waktu
Waktu yang diperlukan sejak screening awal hingga tahap akhir dilakukannya transfer embryo biasanya memakan waktu antara 30 hingga 45 hari untuk long protocol atau sekitar 16 hari untuk short protocol.

Prosedur program Bayi Tabung
Untuk pasangan suami istri yang telah memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung, diwajibkan untuk menandatangani formulir Informed Consent dan menyelesaikan administrasi sebelum dimulainya program. Sebaiknya hal ini dilakukan satu minggu sebelum perkiraan siklus menstruasi berikutnya, sehingga calon pasien diharapkan benar-benar yakin untuk melakukan program bayi tabung. Pada saat ini calon pasien diharapkan juga telah mengerti mengenai tahap-tahap apa saja yang akan dilakukan setelah mendapatkan penjelasan dari konselor sebelumnya, termasuk cara melakukan terapi suntik dan obat-obatan apa saja yang akan digunakan.
Selanjutnya para calon pasien dipersilahkan untuk menghubungi konselor Teratai pada saat hari pertama haid. Akan sangat membantu kami jika pasien dapat menyiapkan kalender menstruasi selama 6 bulan terakhir. Kami juga menyediakan fasilitas sms dan on call jika pasien ingin memerlukan informasi diluar jam kantor. Jadwal pemeriksaan akan diberitahukan oleh konselor kami berdasarkan siklus menstruasi pasien.

Tahapan
Program bayi tabung sendiri akan dilakukan dalam 3 tahap sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan Petik Ovum (Pre-OPU)
2. Tahap Operasi Petik Ovum (Ovum Pick Up/OPU)
3. Tahap Post OPU
4. Tahap Pre-OPU

Pada tahap ini akan dilakukan Terapi Down Regulation dan Terapi Stimulasi.
Down Regulation adalah suatu fase dimana rangsangan otak terhadap ovarium dihentikan dengan penggunaan obat tertentu. Pada fase ini kita ingin menciptakan seperti keadaan menopause dengan tujuan untuk mempersiapkan indung telur menerima terapi stimulasi. Terapi Down Regulation dimulai pada H21 dengan dosis tertentu yang berbeda untuk setiap pasien dan jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh tim dokter kami. Sebelum dimulainya terapi ini terlebih dahulu pada siklus hari ke 21 dilakukan tindakan trial sounding , yaitu pemeriksaan untuk menilai keadaan anatomi rahim.
Pemeriksaan di tahap pertama ini yaitu pada siklus hari ke 2-5, diawali dengan pemeriksaan hormon LH, FSH, Prolaktin dan Estradiol. Terapi ini berlangsung lebih kurang antara 2 minggu hingga 1 bulan tergantung kasus yang dialami pasien. Alternatif lain yang dapat dilakukan juga untuk istri yang siklus menstruasinya tidak teratur dilakukan Pill Cross Over , sehingga memudahkan pemberian terapi injeksi Buserelin Acetate.

Terapi injeksi Buserellin Acetate ini dilakukan 1x sehari pada jam yang sama yaitu jam 1 siang atau jam yang telah ditentukan dokter dengan dosis 0.5 mg tiap kali suntik. Cara penyuntikan dilakukan secara sub kutan, yaitu tehnik suntik dengan menggunakan syringe pendek dan disuntikkan tegak lurus kira-kira 2 cm dibawah pusar. Tehnik penyuntikan ini akan diajarkan oleh suster kami sehingga pasien dapat melakukan penyuntikan sendiri di rumah.
Pada tahapan ini ada beberapa hal yang mungkin dirasakan oleh pasien, seperti halnya keadaan menopause, yaitu perasaah gerah/kepanasan, sakit kepala ataupun perubahan mood. Kadang-kadang juga ditemukan buah dada seperti mengalami pembengkakan. Gejala-gejala ini akan hilang dengan sendirinya pada saat pasien masuk ke tahap berikutnya. Pasien juga ada kemungkinan untuk tidak mengalami menstruasi pada tahap ini.

Jika pasien lupa waktu penyuntikan, maka sebaiknya segera dilakukan penyuntikan pada saat itu juga. Sedangkan penyuntikan berikutnya dilakukan sesuai jadwal yang sebagaimana mestinya. Tetapi jangan pernah untuk melakukan 2 dosis penyuntikan pada saat yang bersamaan jika anda lupa menyuntik dalam 1 hari.

Setelah terapi suntik selesai sesuai dengan yang ditentukan oleh dokter maka kemudian dilakukan pemeriksaan kembali hormon-hormon tersebut diatas atau dilakukan pemeriksaan USG untuk memastikan apakah pasien dapat masuk ke dalam fase berikutnya yaitu terapi stimulasi.

Terapi Stimulasi
Terapi Stimulasi dilakukan untuk merangsang pertumbuhan folikel pada indung telur sehingga jumlahnya bertambah banyak dan meningkatkan kemungkinan memperoleh sel telur matang pada saat operasi petik ovum dilakukan.

Terapi ini dapat dimulai jika sudah dilakukan pemeriksaan USG oleh dokter ahli kami dan dari hasilnya terlihat tidak ada folikel yang berkembang di dalam rahim pasien. Selanjutnya dokter ahli kami akan menentukan berapa besar dosis yang akan diberikan untuk tiap pasien berdasarkan kondisi dan usia yang dialami oleh pasien.

Sama halnya dengan penyuntikan pada terapi down regulation, injeksi stimulasi ini juga dilakukan secara sub kutan dan pada waktu yang sama setiap harinya. Pasien dapat melakukan suntikan di Klinik Teratai atau di tempat praktek dokter terdekat dengan meminta surat pengantar terlebih dahulu dari klinik Teratai. Injeksi ini dilakukan minimal 8 kali hingga 14 kali dengan menyuntikkan obat FSH Recombinant/Gonadotrophin dan dosisnya tergantung dengan kondisi pasien. Kontrol dengan USG dilakukan setelah suntikan stimulasi ke 6 untuk melihat pertumbuhan folikel. Kontrol berikutnya dilakukan pada hari ke 8 untuk melihat apakah sudah terdapat folikel yang matang Jika belum terdapat maka suntikan akan diteruskan hingga minimal ada 3 folikel matang dengan diameter rata-rata 18 mm dan siap untuk di petik melalui operasi petik ovum.

2.Tahap Operasi Petik Ovum (Ovum Pick Up)
Penjadwalan untuk Operasi Petik Ovum dapat dilakukan jika sudah terdapat 3 atau lebih folikel dengan diameter 18 mm pada pagi hari saat perencanaan penjadwalan. Kadar E2 juga terus dipantau dan harus mencapai 200pg/ml/folikel matang. Jika kadar E2 masih rendah dan adanya ketidakseragaman pertumbuhan folikel maka penjadwalan dapat ditunda satu hari atau lebih.

Sebelum dilakukan Operasi Petik Ovum tepatnya 36 jam sebelumnya dilakukan penyuntikkan hCG dengan dosis 5000 IU atau 10,000 IU, besar dosisnya ditentukan oleh dokter ahli kami.

Pasien juga diharuskan untuk menandatangani formulir persetujuan operasi petik ovum dan anastesi. Prosedur anastesi dilakukan tetapi pasien tidak perlu menjalani rawat inap karena setelah dilakukan operasi pasien cukup menunggu di ruang pemulihan biasanya sekitar 2 jam dan selanjutnya bisa pulang kembali ke rumah.

Operasi biasanya dimulai pada pagi hari jam 9.00 dengan kisaran waktu sekitar 60 menit tergantung pada banyaknya folikel yang akan diaspirasi.

Persiapan sebelum Operasi Petik Ovum
• Sudah puasa 6 jam sebelum jadwal operasi yang ditentukan.
• Datang ke klinik paling lambat 1 jam dimuka, dari jadwal operasi.
• Sebaiknya tidak membawa barang-barang berharga (perhiasan/ uang dalam jumlah besar).
• Tidak boleh memakai cat kuku, menggunakan parfum/wewangian dan dianjurkan untuk menghapus lipstick, melepas gigi palsu, sesaat sebelum operasi.
• Suami harus hadir pada hari pengambilan sel telur istri, untuk pengambilan sperma, dan sudah tidak berhubungan 3-5 hari sebelumnya.
• Melapor ke klinik fertilitas Teratai RSGP lantai IV.
• Pemeriksaan pra pengambilan sel telur oleh dokter di bagian fertilitas.
• Kandung kemih harus dikosongkan sebelum pengambilan sel telur.
• Ganti baju di ruang pemulihan.
• Menunggu pengambilan sel telur di ruang pulih.
• Masuk ke kamar operasi sesuai instruksi dokter.

Setelah OPU selesai dilakukan dan pasien pulang ke rumah, dianjurkan pasien beristirahat di rumah karena kemungkinan pasien masih mengalami efek dari anastesi dan nyeri kram ringan pada perut bagian bawah. Pendarahan pada vagina akibat dari operasi normalnya tidak terjadi.

Pada saat bersamaan berlangsungnya OPU, suami juga harus melalui proses pengeluaran sperma yang dilakukan melalui proses masturbasi di ruangan yang telah kami siapkan di klinik Teratai. Pada proses ini tidak diperbolehkan menggunakan pelicin (lubricant) contohnya sabun/baby oil dan lainnya karena dapat menghambat proses fertilisasi/pembuahan.

Pada sore harinya setelah OPU dilakukan, proses fertilisasi mulai dikerjakan. Sel telur yang sudah terseleksi akan dipertemukan dengan sel sperma yang sudah melalui proses pencucian ( washing) sehingga hanya sel sperma yang sudah terseleksi saja yang akan kita gunakan untuk menghasilkan embryo yang berkualitas baik. Selanjutnya kita dapat masuk ke tahap selanjutnya yaitu proses tandur alih embryo (embryo transfer)

3.Tahap Post OPU
Tahap yang terakhir dalam program bayi tabung adalah Tandur Alih Embryo (Embryo Transfer) yang kemudian dilanjutkan dengan Terapi Obat Penunjang Kehamilan.

Tandur Alih Embryo adalah proses memasukan 2 atau maksimum 3 embryo yang sudah diseleksi ke dalam rahim dengan cara menyemprotkannya secara perlahan ke dalam rahim melalui leher rahim dengan menggunakan alat bantu kateter dan USG. Prosesnya biasanya hanya berlangsung beberapa menit. Jumlah embryo yang di tandur alihkan akan ditentukan oleh dokter ahli kami. Sebagai acuan pada pasien berusia sama atau <= 30 tahun maka biasanya jumlah embrio yang ditandur alihkan adalah 2. Jika usia lebih dari 30 tahun maka jumlah embrio yang dtandur alih adalah 3. Sisa embryo yang sudah terseleksi dengan baik dapat dibekukan dan dipergunakan untuk kehamilan berikutnya berdasarkan persetujuan pasien.

Tandur Alih Embryo dilakukan pada hari ke 2 atau hari ke 3 setelah operasi petik ovum dilakukan. Waktunya ditentukan berdasarkan pada hasil proses fertilisasi yang akan dilaporkan oleh staf laboratorium embryology kepada tim konseling. Selanjutnya konselor kami akan menghubungi pasien untuk penentuan jadwal embryo transfer. Pasien juga dapat menghubungi konselor klinik Teratai satu hari setelah OPU untuk mengetahui jumlah telur yang berhasil mengalami pembuahan.

Proses ini merupakan proses yang sederhana sehingga tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan pasien seperti halnya operasi petik ovum, karena pada tandur alih embryo ini pasien tidak perlu melalui proses anastesi. Seperti halnya papsmear, biasanya pasien tidak mengalami nyeri yang terlalu berlebihan. Embryo yang siap untuk ditransfer akan diperlihatkan pada layar tv oleh Embryologist Teratai sebelum dilakukan transfer.

Tahap selanjutnya adalah Terapi Obat Penunjang
Setelah proses tandur alih embryo berhasil dilakukan, pasien diberikan terapi obat penunjang. Terapi ini bertujuan untuk mempersiapkan rahim menerima implantasi dari embryo yang sudah ditanamkan sehingga embryo dapat berkembang dengan normal.
Pada tahap ini pasien diberikan suntikan hCG pada hari OPU+4 dan OPU+7. Dosis yang biasanya diberikan 1500 IU atau 5000IU, tergantung dengan kondisi pasien.

Selain pemberian hCG, pasien juga dapat diberikan progesterone secara oral selama 15 hari atau penggunaan vagina gel yang digunakan tiap malam sebelum tidur.